Setiap anak terlahir dengan fitrahnya, dan setiap anak mempunyai keistimewaan tersendiri. Kita bagaikan orang tua
wajib teliti memandang keistimewaan yang dipunyai kanak - kanak kita. Anak yang
malas kala kecil, belum pasti masa depannya buruk. Demikian sebaliknya, anak
yang pintar semenjak kecil, belum pasti masa depannya hendak cerah.
Semua bergantung trik kita bagaikan orang tua dalam mendidik
dan juga membesarkannya. Mempersiapkan diri kanak - kanak kita supaya jadi
kanak - kanak yang bermental kokoh dan jujur buat kebaikan masa depannya.
“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sembari melemparkan novel
rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan juga
setelah itu ia menarik telinga Doni dengan keras. Doni meringis. selang berapa
lama Suamiku berangkat kekamar dan juga keluar kembali bawa penepuk nyamuk.
Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu.
Penepuk nyamuk itu ditunjukan kekaki, setelah itu ke punggung dan juga terus ,
terus. Doni menangis “ Ampun, bapak ..ampun ayah..” Katanya dengan suara
terisak isak. mukanya memancarkan kerasa takut. ia tidak meraung. Doni ku tegar
dengan siksaan itu. tetapi matanya memandangku. ia memerlukan perlindunganku.
tetapi saya tidak mampu karna saya ketahui betul watak suamiku.
amati adik adikmu. Mereka seluruh pintar pintar sekolah.
Mereka giat belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan juga tolol ingin jadi
apa kamu nanti ?. ingin jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan
suara terengah engah keletihan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi. Matanya
kosong memandang kearah Doni dan juga setelah itu melirik kearah ku “ Kamu
ajarin dia. saya tidak ingin lagi amati lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “
Kata suamiku kepadaku sembari berdiri dan juga masuk kekamar tidur.
Kupeluk Doni. Matanya memudar. saya ketahui dengan nilai
lapor kurang baik dan juga tidak naik kelas aja ia telah malu terlebih di maki
maki dan juga dimarahi didepan adik adiknya. ia malu bagaikan anak tertua.
berulang matanya memandangku. Kulihat ia perlu dukunganku. Kupeluk Doni dengan
erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak ibu pintar kok. esok ya giat ya
belajarnya”
“Doni udah belajar begitu sungguh, bunda, ibu kan amati
sendiri. tetapi Doni memanglah engga pintar serupa Ruli dan juga Rini. mengapa
ya Bunda” muka lugunya membuatku terenyuh.. saya menangis “ Doni, pintar kok.
Doni kan anak ayah. bapak Doni pintar pasti Doni pula pintar. “
“Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni
telah mengecewakan Ayah, ya bunda “
Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami
karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan
kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk
menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera
kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak
lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini
bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai
redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani
Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku
tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika
keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja
serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil
Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh
dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat
sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang
gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring
usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu
aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu,
Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni
mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka
disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi
ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia
punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya
seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia
malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis
tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari
keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal
gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk
mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni
kepesantren. AKu tersentak.
“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “
“ Biar dia bisa dididik dengan benar”
“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”
“ Ini sudah keputusanku, Titik.
“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik
itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada
pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik
kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana
yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu
alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu
ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren,
dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin
berpisah dariku.
Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda”
Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki
laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu
harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren.
“
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku
merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh
mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau
liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk
mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau
setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah
bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu
bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni
lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara
selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku
menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan
adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah
malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.
Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok.
Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat
berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan
setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan
gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah.
Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan
kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal
masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban
mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku
tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok.
Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya
lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam
Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih
masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah
suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin
karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa
alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela
diri.
Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi
datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah
yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku
sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan
Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar
untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan
segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya
terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali.
Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan
yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah.
Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia
rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk
membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya
satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan
jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku
nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.
“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas
kekuatan terakhirku membela Doni.
“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar
bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.
***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap
bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah
pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia
berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku
menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas
hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi
penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami
semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana
kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak
ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia
selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah
kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “
***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut
kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk
kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung.
Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya ,
adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan
tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita
oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu
dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping.
Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli
malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang
tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah
kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka
tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang
diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala
kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada
saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat
merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.
Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur
kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak
aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya
kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka
juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk
meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain.
Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha
percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar
namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran
ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali
kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan
subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman
Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang
sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya
“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia
tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan
tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah
kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita
perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada
Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita
didunia ini dibandingkan dengan Allah. “
“ Apa yang mengenai keluarga kita saat ini bukanlan azab
dari Allah. Ini karna Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua
karna kita semua memiliki kedudukan sampai membikin bapak terpuruk dalam
perbuatan dosa bagaikan koruptor. Allah lagi berdialog dengan kita tentang
tabah dan juga ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan.
Kita wajib mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam
sesal dan juga taubat. supaya apabila esok ajal menjemput kita, tidak terdapat
lagi yang harus disesalkan, Karna kita telah amat siap buat kembali keharibaan
Allah dengan bersih. “
Seusai Doni berdialog , saya senantiasa menangis. Doni yang
tidak pintar sekolah, tetapi Allah mengajarinya buat mengenali rahasia terdalam
tentang kehidupan dan juga ia memperoleh itu buat jadi pelindung kami dan juga
menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang pengaruhi perilaku suamiku
dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tidak lagi kerap naik. ia
ikhlas dan juga tabah , dan juga pasti karna ia terus menjadi dekat kepada
Allah. tidak sempat tinggal sholat sekalipun. Zikir dan juga linangan airmata
sesal hendak dosanya sudah membikin jiwanya tentram. Mahasuci Allah
- - - - - - - - - - - -
Semoga bermanfaat... Read and Share ya...
BACA JUGA

0 Response to "Kisah Mengharukan: "Setiap Anak Punya Keistimewaan""
Posting Komentar